Kajian · kitab · Tak Berkategori

Syarat Thaharah/Bersuci (Sulam al-Taufiq #Fasal11 )


Dalam melakukan thaharah atau bersuci seperti wudlu dan mandi harus memenuhi tata cara atau rukun-rukun yan telah disampaikan pada fasal sebelumnya. Selain itu bersuci juga memiliki beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu :

  • Islam, maka bersucina orang non muslim hukumnya tidak sah walaupun ia melakukan sesuci sesuai rukun-rukunya.
  • Tamyiz, yakni pintar. Dalam masalah thaharoh tidak disyaratkan baligh atau batasan usia. Sekira ia sudah tamyiz maka bisa sah. Untuk batasan tamyiz sendiri ada beberapa pendapat. Ada yang mengatakan batasan tamyiz adalah anak sudah bisa mandiri sekira ia mampu makan, minum, istinja’ dan kebiasaan lainya sendiri. Dari syarat tamyiz ini bisa diambil pengertian bahwa orang gila dan anak yang belum bisa mandiri maka tidak sah.
  • Tidak ada perkara yang menghalangi sampainya air ke anggota yang dibasuh, seperti lilin, minyak yang menggumpal, cat, tinta dan sebagainya. Berbeda halnya tinta atau henna yang hanya menyisakan bekas warna saja, maka hukumnya sah. Tato, dalam permasalahan wudlu bagi orang yang bertato ada banyak pendapat, tergantung pada posisi tato tersebut, jika menutupi kulit maka sesucinya tidak sah, bila didalam kulit maka sesucinya bisa sah. Akan tetapi hukum tato sendiri haram. Waallahu A’lam.
  • Menggunakan Air yang suci dan mensucikan. yakni air tersebut masih murni dan tidak tercampur perkara lain yang dapat merubah sifat air, dari warna, bau dan rasa, dan juga air belum digunakan untuk menghilangkan hadas maupun najis. Dalam permasalahan perubahan air ini terdapat beberapa pembahasan diantaranya :
  1. Tercampur perkara suci dan merubah sifat air, ketika airnya sedikit maka hukumnya suci tapi tidak mensucikan. Agar kembali suci dan mensucikan air tersebut ditambah hingga mencapai dua kolam (kubus dengan panjang sisi 60 cm)
  2. Tercampur perkara yang tidak bisa lepas dari air, seperti tanah, ganggang lumut, hukumnya tetap suci dan mensucikan.
  3. Kejatuhan perkara yang tidak larut dalam air, ketika perkara tersebut tidak merubah sifat air maka hukumnya tetap suci dan mensucikan.
  4. Terkena najis, apabila airnya sedikit maka hukumnya menjadi mutanajis dan tidak boleh digunakan, walaupun tidak ada perubahan. Apabila banyak maka jika tidak ada perubahan hukumnya suci, jika ada perubahan maka hukumnya mutanajis.

Air yang mutanajis, musta’mal (sudah digunakan untuk bersuci) dan air yang tercampur perkara lain dapat menjadi menjadi suci dan mensucikan dengan cara menghilangkan perubahan air tersebut dan ditambah hingga mencapai dua kolam (kubus dengan panjang sisi 60 cm)

Satu tanggapan untuk “Syarat Thaharah/Bersuci (Sulam al-Taufiq #Fasal11 )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s