Kajian

Kewajiban Shalat (Sulam al-Taufiq #fasal5)


Termasuk dalam kategori perkara yang wajib bagi umat islam adalah shalat lima waktu dalam sehari semalam. Shalat yang wajib besrta waktunya sebai berikut :

  • Dzuhur, waktunya dimulai dari tergelincirnya matahari, matahari bergeser dari waktu istiwa’ (matahari tepat diatas suatu benda sehingga bayang-bayang suatu benda tepat dibawahnya) sekira bayang-bayang suatu benda sudah condong ke arah timur, waktu dzhur habis ketika panjang bayang-bayang suatu benda sudah menyamai panjang benda itu sendiri.
  • Ashar, dimulai setelah habisnya waktu dzuhur sampai terbenamnya matahari.
  • Maghrib, dimulai dari habisnya waktu ashar yakni terbenamnya matahari sampai terbenamnya mega merah, pendapat ini merupakan pendapat lama (qoul qodim) imam Syafi’i yang masih dipakai. sedangkan menurut pendapat baru (qoul jadid) imam syafi’i waktu maghrib habis setelah melakukan adzan, wudlu, menutup aurat, iqamah dan melaksanakan shalat lima rokaat. Dalam hal ini qoul qodimlah yang masih dipakai.
  • Isya, dimulai dari waktu solat maghrib habis sampai terbitnya fajar shodiq (fajar yang membentang di langit)
  • Subuh, waktunya dimulai saat terbitnya fajar samapai terbitnya matahari.

Kelima shalat ini wajib dilaksanakan pada waktu yang telah ditentukan bagi orang Islam yang sudah baligh, berakal, suci dari haidl dan nifas. Haram hukumnya melakukan solat sebelum masuk waktunya atau mengakhirkan shalat sampai habis waktunya tanpa adanya udzur/halangan.

Apabila sudah masuk waktu shalat kemudia datang perkara yang mencegah sahnya solat seperti haidl dan sejenisnya, sedangkan sebelumnya masih terdapat waktu yang cukup untuk melakukan shalat dan bersuci maka ia wajib mengqodlo ketika sudah suci. semisal waktu dzuhur mulai pukul 12.00 WIB kemudian seorang wanita haidl pada pukul 12.15 WIB maka ketika suci ia wajib mengqodlo solat tersebut, karena diantara waktu masuknya shalat dan datang bulan cukup untuk melakukan shalat beserta syarat rukunya.

Begitu juga sebaliknya, ketika perkara yang mencegah sahnya shalat hialng seperti terhentinya haidl sedangkan waktu shalat masih tersisa sekira takbiratul ikhram maka ia wajib melaksanakan salat tersebut. Disini ada perbedaan antara datangnya perkara yang mencegah sahnya shalat dan hilangnya perkara yang mencegah sahnya shalat, ketika datangnya perkara yang mencegah sahnya shalat waktu yang dipertimbangkan adalah sekira cukup melaksanalkan shalat secara ssempurna, ketika waktu tersebut kira-kira tidak cukup maka tidak wajib qodlo. Bebeda halya ketika hilangnya perkara yang mencegah sahnya salat, waktu yang dipertimbangkan adalah takbiratul ikhram saja, ketika cukup untuk takbir maka ia wajib melaksanakan shalat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s