Kajian · kitab

Kewajiban Setiap Umat (Sulam al-Taufiq #fasal4)


Bagi setiap orang yang mukalaf diwajibkan untuk melaksanakan semua perkara yang diwajibkan oleh Allah kepadanya, hukum wajib ini juga mencangkup keharusan melakukan perkara tersebut sesuai aturanya, seperti menepati sarat dan rukunya, dan juga meninggalkan perkara yang membatalkanya. Gambaranya seperti Allah memerintahkan untuk mendirikan shalat, maka diwajibkan juga mememenuhi syarat shalat seperti bersuci dar hadas, terhindar dari najis, menghadap kiblat dan syarat-syarat lainya. begitu juga melaksanakan shalat sesuai dengan rukun-rukun shalat, dimulai dari takbiratul ikhram sampai salam dan juga meninggalkan perkara yang membatalkan shalat, seperti berbicara, melakukan gerakan tiga kali berturut-turun selain gerakan shalat dan sebagainya. Hal ini sesuai dengan kaidah ushul fiqh “Perintah untuk melaksanakan perkara maka mencangkup perintah melaksanakan perantara perkara tersebut”. begitu juga dalam ibadah-ibadah atau amalan lainya.

Kewajiban ini bukan bersifat indifidual, akan tetapi bersifat sosial, diwajibkan pula memerintahkan orang yang meninggalkan kewajibanya atau melaksanakan kewajiban tetapi tidak sesuat dengan tata cara yang tepat. Bahkan orang tersebut diwajibkan untuk memaksa apabila ia mampu, jika tidak mampu maka wajib mengingkari dalam hati bahwa perakara tersebut tidak benar. Hal ini sesuai dengan perintah Nabi yang menegaskan bahwa ketika kita melihat sebuah kemungkaran kita wajib merubahnya dengan kekuatan/kekuasaan kita apabila mampu, seperti orang tua boleh memaksa bahkan memukul anaknya yang sudah baligh bila meninggalkan kewajibanya, atau pemerintah menutup tempat-tempat maksiat. Apabila tidak memiliki kekuatan/kekuasaan maka kita wajib merubahnya dengan ucapan kita, semisal dengan sesama teman kita harus berani menegur apabila ia teman kita melakukan kemungkaran atau dosa. Apabila dengan lisan pun kita tidak mampu maka kita wajib mengikari didalam hati kita bahwa perkara atau tindakan orang tersebut tidak benar, selain itu kita juga mendoaakan semoga mendapat hidayah dari Allah. Jadi dalam hal amar ma’ruf nahi munkar semua orang mendapatkan kewajiban dan mendapatkan kesempatan untuk melakukanya. baik dengan tindakan, ucapan maupun dengan doa. Demikian pula kita diwajibakan untuk meninggalkan semua perkara yang diharamkan dan melarang orang lain untuk melakukan perkara tersebut, serta menjauhi tempat-tempat maksiat, karena dapat mempengaruhi keimanan kita. Berbeda halnya dengan orang yang mempunyai tujuan untuk berdakwah atau mengajak orang-orang yang ada di tempat tersebut bertaubat, dengan catatan ia telah mempunyai keteguhan hati sekira ia sendiri tidak ikut terjerumus dalam maksiat tersebut. Agama Islam bukan saja mengatur hubungan kita kepada Allah saja, tetapi ibadah sosial juga sangat diutamakan dalam agama. Permasalahanya kita sering bersifat egois, suatu kebaikan sering hanya disandarkan pada diri sendiri, dan ketika melihat keburukan atau kekurangan orang lain kita lebih sering mencaci atau mencelanya, bukan mendoakanya.

Mari kita bersama-sama melakukan perubahan dan perbaikan sesuai kemampuan kita baik dari segi ibadah kepada Allah maupun ibadah sosial. Yang mempunyai kewajiban untuk menegakan kebenaran bukanyanya para cendikia atau pemerintah semata, setiap orang mempunyai kewajiban melakukanya, hal yang paling ringan kita lakukan adalah selalu mendoakan untuk kebaikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s